Aku takut jatuh cinta lagi

Aku takut jatuh cinta lagi untuk ke sekian kalinya

-pada jiwa-jiwa yang masih suci tanpa noda

-pada energi – energi yang masih kuat bertahan lama

-pada sapaan pagi sederhana yang penuh makna

-pada senyuman tulus tanpa prasangka

-pada pelukan hangat tanpa tendensi apa-apa

-pada tatapan ingin tahu yang jujur apa adanya

 

Aku takut jatuh cinta dan merasa dibutuhkan kehadirannya

Aku takut jika rasa cinta itu hadir menyapa

Lalu diam-diam menyusuri ruang-ruang hampa

Yang selama ini enggan untuk dibuka

Kemudian bertahan untuk tinggal disana, meski sementara

 

Karena jika tanda jatuh cinta itu ada dan bermula,

Hingga rasa ingin memiliki tumbuh mekar sempurna,

Maka perpisahan akan berada di penghujungnya

Meski aku berusaha keras memegang erat genggamannya

Mengindahkan rentannya ikatan tali sementara

Yang pasti kan terlepas seperti sebelum-sebelumnya

Hingga hanya keping-keping rindu yang tersisa.

 

-catatan galau guru yang takut memulai mencintai anak didiknya sekarang sambil mengubur dalam rasa rindu pada anak didiknya yang terdahulu

Advertisements
Aku takut jatuh cinta lagi

Finally, I found you

Jika passion itu memang harus dicari padahal sebenarnya udah ada di diri kita tapi kita tidak sadar, maka bersyukurlah saya karena sepertinya saya sudah mulai berdamai dengan diri saya dan menyadari bahwa mengajar anak-anak adalah passion saya. Saya sudah menemukan passion yang saya cari.

Akhirnya, saya sadar. Tidak ada yang kebetulan. Bagaimana Allah Yang Maha Kuasa Mengatur semuanya dengan rapi dan menuntun saya menemukannya. Saya baru sadar bahwa apa yang Allah tentukan di tiap perjalanan hidup saya mengantarkan saya pada titik ini. Titik yang saya syukuri betul-betul, meski orang lain akan menganggap itu terlambat. tapi, saya fikir, Allah Maha Tahu atas segala kehendakNya pada hambaNya.

Jadi, tidak ada alasan lagi untuk kemudian mundur dari passion yang susah-susah saya cari. Tapi, bisa jadi mungkin passion awal ini akan menuntun saya ke passion-passion atau bisa saja kita sebut dengan rencana Allah yang lain, yang lebih indah. Saya sangat menantikan kejutanNya. Karena saya yakin, Allah tidak akan pernah salah memberi kejutan.

Meski nantinya ketika dalam menjalani passion ini akan ada banyak hal yang akan menantang saya untuk mundur, diam tak bergerak, atau melesat maju. Maka saya hanya bisa berdoa meminta kekuatan pada Yang Maha Kuat. Tidak dengan meringankan beban, namun menguatkan bahusaya untuk tetap tegar dan kuat, apapun yang terjadi.

Terdengar seperti optimis kan dibanding pesimis?

well, finally I found you. And I cant wait to enjoy that passion.

with you. ^_^

Finally, I found you

Hikmah bisa berasal dari mana saja

Karena kadang-kadang ketika kita merasa tersesat, kita butuh nasehat. Tapi bukan ingin digurui, bukan cuma ingin didengarkan, lebih dari itu, merasa tercerahkan.

Dan, belakangan, membaca lagi tulisan-tulisan Adhitya Mulya yang ini dan ini membuat jiwa ini tercerahkan. Aseeeek ^_*

Ada ga yah kloningan Adhitya Mulya satuuu aja yaaa… Yang masih single dan available gituuuu…….

hahahaha ngarep

eh, bentar-bentar. Harus bisa kek Ninit Yunita dong? hmmmm

Hikmah bisa berasal dari mana saja

ABK bukan penyakit, ABK adalah anugerah

Sebenarnya saya sangat menghindari penyebutan ABK ( Anak Berkebutuhan Khusus ) pada anak-anak yang diberi anugerah memiliki kemampuan yang unik. Meskipun secara fisik mereka berbeda dari kita namun sebenarnya kemampuan mereka jauh lebih bagus dari kita untuk hal-hal tertentu. Maka, saya akan melanjutkan tulisan ini dengan menyebut ABK dengan anak saja tanpa label tertentu. Baru ketika saya menyebut anak yang secara fisik sempurna, saya akan menyebutnya anak biasa.

Selain bertemu dengan orangtua saya sepanjang hidup adik saya, saya juga kerap bersinggungan dengan para orangtua murid yang juga memiliki anak yang sama. Dari sejak tahun 2011 hingga sekarang, perilaku dan cara berfikir para orangtua tersebut hampir-hampir mirip. Beberapa diantara mereka sudah menerima dengan ikhlas dengan keadaan anak. Namun, tidak sedikit dari mereka yang tidak mau menerima bahkan menolak anaknya.

Mungkin penolakan itu tidak tersurat atau terucap jelas. Namun, kami para guru sangat sangat mengetahui mana orangtua yang benar-benar menerima ikhlas keadaan anaknya, mana yang belum. Saya menghindari kata-kata tidak karena saya yakin orangtua yang baik punya cinta dan kasih sayang yang seluas samudra sehingga nantinya mereka akan mencintai dan menerima tulus ikhlas apapun keadaan anaknya tanpa syarat.

Jika masih ada orangtua yang selalu, selalu menyebut bahwa ” saya udah keluar uang banyak untuk anak saya ” itu salah satu indikator bahwa orangtua tersebut masih ada ganjalan tentang anaknya. Sebenarnya wajar sih kalau orangtua “mengeluh” tentang banyaknya biaya yang dikeluarkan karena memang begitu keadaannya. Namun, jika selalu itu saja yang diucapkan, lah ngapain bikin anak pak dan bu? 🙂

Saya sangat faham bahwa semua orangtua tidak ada yang menginginkan anaknya menderita, tidak seperti anak biasa, dikucilkan, dan lain-lain. Dan saya tahu betul bagaimana beratnya membesarkan anak dengan berbagai keadaannya. Namun, bukankah setiap penciptaan Yang Maha Kuasa itu pasti ada hikmahnya?

Saya memang belum menikah, belum memiliki anak, belum tahu rasanya menjadi orangtua sebenarnya. Namun, saya sedikit tahu bagaimana rasanya memiliki anak yang spesial dengan keadaan adik saya yang Tuna Rungu sejak lahir. Berat memang. Berat sekali. Tapi bukankah setiap permasalahan ada solusinya, seberat apapun itu? Allah sudah memberikan dua kemudahan diantara kesulitan yang ada. Maka, tinggal bagaimana diri kita sendiri yang menyikapinya dengan sikap terbaik.

Kita tidak bisa meminta keajaiban tiba-tiba anak kita berubah seperti yang kita inginkan dengan cara instan, dalam waktu yang super cepat. Tidak semua orang punya mukjizat seperti jaman Nabi dan Rasul. Artinya bahwa kita lah orang dewasa di sekitar anak yang perlu memiliki jiwa besar, usaha maksimal, dan semangat yang konsisten dalam mendidik anak kita. Anak kita dititipkan kepada kita bukan untuk kita sia-siakan tapi untuk kita sayangi sepenuh hati.

Langkah pertama untuk menyikapi keadaan ini adalah menerima. Menerima anak kita dan kelebihannya sebagai hal yang spesial. Hal spesial ini bukan penyakit yang bisa disembuhkan. Penyakit yang ada obatnya. Ini adalah anugerah yang bisa dikembangkan untuk masa depan anak. Begitu banyak cara untuk mengetahui cara mengembangkan potensi anak tanpa harus memaksakan ( secara negatif ) bahwa anak ini harus sama seperti anak biasa. Tidak ada anak yang sama. Setiap anak adalah spesial.

Di lain sisi, menerima anak bukan mengabulkan setiap permintaan anak apapun yang ia inginkan. Menurut saya, menerima anak adalah meyakini bahwa ia bukan sesuatu yang kita malu jika kita punyai. Ia bukan sesuatu yang harus kita sembunyikan. Mereka adalah manusia seperti halnya kita, punya masa depan yang jauh lebih baik jika kita dapat mengusahakan caranya.

Sebagai orangtua, dalam hati kecil, sepertinya sudah tahu bagaimana seharusnya bersikap dengan anak. Namun, terkadang banyak pemikiran dewasa yang melingkupinya sehingga sikap yang seharusnya muncul tidak dapat tampak dengan sempurna. Disinilah pentingnya berdoa pada Allah SWT meminta kekuatan terus-menerus supaya orangtua tetap ikhlas dan kuat.

Itu saja, sebenarnya. Iya, itu saja sepertinya. Keyakinan kita pada Allah bahwa anak adalah anugerah, itu jawabannya.

🙂

ABK bukan penyakit, ABK adalah anugerah